Sabtu, 27 Mei 2017

Perdebatan Sepasang Sepatu

Malam sudah cukup larut. Namun, disebuah rak sepatu, masih terjadi perdebatan sengit dan panjang antara sepatu kiri dan kanan. Padahal, mereka baru saja mlepas lelah setelah menemani tuannya pergi ke pegunungan.
       "Enak benar kamu hari ini. Datang datang langsung bersiap tidur. Padahal sepanjang jalan kerjaannya tidur melulu," Gerutu sepatu kanan melihat sepatu kiri sudah bersiap mau tidur.
        "Kamu lihat sendiri kan sekarang sudah jam berapa? Hari sudah larut malam seperti ini kok aku tidak boleh tidur?"jawab sepatu kiri dengan kesal.
         "Bukannya kamu sudah ngorok seharian?" Tanya sepatu kanan dengan ketus.
         "Enak saja! Mana berani aku ngorok didepan bos? "Jawab sepatu kiti dengan sama ketusnya.
         "Kamu ini salah makan atau apa sih? Tanpa alasan marah marah aja melulu?" Sahut sepatu kiri.
   "Aku ini tidak marah tapi,cuma kesal"
   "Emang apa bedannya marah sama kesal?"
   "Marah setingkat lebih tinggi!"
   "Ha ha, dapat defenisi dari mana sobat?"

   "Masa bodohlah. Defenisi dari mana yang jelas kamu egois dan tanpa berperasaan, kamu sahabat aku tidak sih! "
   "Kita ini bukan sekedar sahabat bung! Lebih dari itu, tidur sama sama, pergi bareng kemana mana, berbecek ria bersama, dsb. Jadi apa lagi yang dioersoalkan?" Jawab sepatu kiri.
    "Kamu memang paling pandai bersilat lidah, tapi kenyataannya berbeda!! "
    "Ya sudahlah, aku mau tidur" jawab depatu kiri sambil menguap.
    "Oke aku mau tanya dengan gamblang kenapa kamu tidak mau membantuku turun naik bukit"
    "Lho kamu ini gimana? Bos kan menggunakan mobil baru, jadi kaki kanan harus menginjak gas dan rem bergantian, jadi jelas dong kenapa aku hanya diam. Bukannya aku tidak mau membantu mu. Aku memang tidak berperan karena kaki kiri bos juga tidak berperan. Masa aku harus minta minta dipakai untuk menggantikanmu??" Jawab sepatu kiri panjang lebar dan berapi api.
      "Jadi, hari ke depan adalah masa untuk santai buatmu??"
      "Memangnya bos seharian nyetir melulu? Apa dia tidak jalan kaki?! Kalau jalan kaki hanya menggunakan kaki kanan saja??
      Mendengar penjelasan sobatnya yang mengandung kebenaran, kali ini sepatu kanan terdiam dengan menghela napas panjang.
     "Sudahlah sobat, kita ditakdirkan untuk bersama, seandainnya aku rusak dan kamu masih utuh pasti kita berdua dibuang. Demikian juga sebaliknya. Tak ada sejarahnya sepatu kiri rusak lalu tuannya membeli sepatu kiri yang baru menemani sepatu kanan, ya kan?" Katu sepatu kiri berargumentasi.
     "Kamu benar sobat. Hari ini aku terlalu lelah dan gampang sekali emosi. Maafkan aku" akhirnya sepatu kanan memohon maaf.
     Lalu keduannya berpelukan erat penuh kehangatan. Dan ketika mereka tidur pulas, wajah keduannya tampak tersenyum cerah penuh kedamaian.

Jumat, 26 Mei 2017

Huru Hara #00





PROLOG
      
    Ketika air berubah menjadi uap, uap berubah menjadi awan, dan awan berubah menjadi hujan, siklus tersebut sudah berputar lama sekali, beribu bahkan berjuta tahun yang lalu bahkan sebelum siklus tersebut diketahui. Sama seperti manusia, kita lahir, tumbuh, dan belajar menjadi orang yang kelak akan ikut berpatisipasi dan memberikan maanfaat dalam rotasi kehidupan di permukaan, entah menjadi siapa atau bagaimana, ya terlihat membosankan memang, tapi pantas untuk dicoba, dan aturan, manusia hidup dibawah peraturan yang dibuatnya sendiri, tujuannya baik, untuk membuat manusia hidup dengan damai dan tanpa mengganggu orang lain atau mengganggu ketentraman manusia itu sendiri. 
     Tapi, bagaimana jika manusia berevolusi dari manusia yang setuju hidup dibawah perarturan yang berlaku agar orang orang tidak hidup dengan bebas sesuai kehendak mereka sendiri, ke manusia yang muak hidup dibawah kekangan dan ingin hidup bebas tanpa adanya aturan ?